Skip to content

Jenis Upacara Manusa Yadnya

  • by

PEGEDONG GEDONGAN

Upacara ini ditujukan ke hadapan si bayi yang ada di dalam kandungan dan merupakan upacara yang pertama kali dialami sejak terciptanya sebagai manusia. Oleh karenanya upacara ini dilakukan setelah kehamilan berumur 5 bulan (6 bulan kalender), sebelum bayi itu lahir. Kehamilan yang berumur di bawah 5 bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna, dan tidak boleh diberi upakara manusia yadnya (menurut lontar Kuno-dresthi).

Tujuannya adalah untuk membersihkan dan mohon keselamatan jiwa raga si bayi, agar kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat (kalau laki-laki menjadi pahlawan pembela negara / titundung musuh dan kalau perempuan menjadi istri yang utama).

BAYI LAHIR

Upacara ini tidaklah mempunyai arti yang istimewa kecuali merupakan rasa gembira dan angayu bagia atas kelahiran si bayi ke dunia.

KEPUS PUSER

Apabila “puser” si bayi sudah lepas (kepus), dibuatkanlah suatu upakara yang bertujuan untuk membersihkan secara rohka-niah tempat-tempat suci, dan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya, seperti Sanggah Kamulan, sumur, dapur, bale dan sebagainya.

Puser si bayi dibungkus dengan secarik kain, lalu dimasukkan ke dalam sebuah tupat (tipat kukur, disertai dengan “anget-anget” (sejenis rempah-rempah seperti sintok, mesui, katik cengkeh dan sebagainya), kemudian digantungkan di tempat tidur si bayi agak ke “tebenan” (hilir).

Kepada si ibu mulai diberi makan berjenis-jenis ikan/daging. Seperti diketahui banyak orang yang tidak berani (tubuhanya tidak tahan) terhadap ikan laut atau daging babi misalnya.

Selain daripada itu mula saat itu si bayi diasuh oleh Sang Hyang Kumara, dan untuk beliau dibuatkanlah sebuah tempat di atas tempat tidur si bayi yang disebut “pelangkiran” (kemara). Menurut mithologi (lontar Siwa-gama) Sang Hyang Kumara adalah salah satu putra Bhatara Siwa dan beliau dikutuk tetap berwujud anak-anak agar tidak termakan/terbunuh oleh kakaknya (Dewa Gana). Dan untuk selanjutnya Sang Hyang Kumara ditugaskan oleh ayahnya untuk mengasuh/untuk melindungi anak-anak yang belum “maketus” (lepas gigi).

UPACARA NGELEPAS HAWON

Upacara ini dilaksanakan setelah bayi berumur 12 (dua belas hari) dan disebut upacara “ngelepas hawon” Upakara (banten) yang diperlukan pada saat ini sama dengan upacara pada waktu “kepus puser”.

Pada upacara itu bayi dilukat dan sesudah itu barulah bayi itu disembahyangkan, mohon agar bayi itu terus dalam keadaan selamat.

UPACARA KAMBUHAN (SATU BULAN TUJUH HARI)

Setelah si bayi berumur satu bulan tujuh hari (42 hari), di adakanlah upacara yang sering disebut “upacara-macolongan”. Dalam upacara ini di samping pembersihan jiwa raga si bayi dan segala noda dan kotoran, juga bertujuan untuk mengembalikan “Nyame-Bajang” si bayi dan pembersihan si ibu agar dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Merajan, Pura dan sebagainya. Kiranya perlu dikemukakan perbedaan antara “Catur-Sanak” dengan ,,Nyama-Bajang”. Catur-sanak berarti saudara empat. Yang dimaksud dalam hal ini adalah empat (4) unsur (benda beserta kekuatannya) yang dianggap sangat membantu pertumbuhan dan keselamatan si bayi sejak mula terciptanya di dalam kandungan sampai dia lahir. Wujud daripada saudara-empat itu adalah: darah, lamad, yeh nyom dan ari-ari. Nama dari saudara empat ini akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi di dalam kandungna dan setelah lahir, sehingga akan terdapat banyak nama untuk mereka. Oleh karena Sang (Catur-Sanak itu dianggap sangat berjasa, maka dianjurkan agar setiap orang tidak melupakan mereka baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.

Kemudian yang dimaksud dengan “Nyama Bajang”, adalah semua kekuatan-kekuatan yang membantu Sang Catur-Sanak di dalam kandungan, dalam proses pertumbuhan, penyempurnaan jasmani serta keselamatan si bayi. Menurut penjelasan beberapa sulinggih, banyak Nyama-Bajang ini adalah “108”, misalnya: Bajang Colong, Bajang Bukal, Bajang Yeh, Bajang Tukda, Bajang Ambengan, Bajang Papah, Bajang Lengis, Bajang Dodot, dan lain-lainnya.

Setelah bayi itu lahir, maka Nyama-Bajang ini dianggap tidak mempunyai tugas lagi, bahkan kadang-kadang sering mengganggu  si bayi. Oleh karena itu pada waktu si bayi berumur 42 hari dianggap sudah waktunya untuk mengembalikan mereka ke tempatnya masing-masing (ke asalnya).

Di samping itu untuk pertama kalinya si bayi dimohonkan pengelukatan ke hadapan Betara Brahma (di dapur), Betara Wisnu (di permandian) dan Betara Siwa/Hyang Guru (di Sanggah Kamulan.)

UPACARA TIGA BULAN (NYAMBUTIN)

Upacara ini disebut pula upacara “Nelu-Bulanin”. Tujuannya adalah agar jiwa-atmi si bayi bener-bener kembali berada pada raganya. Di samping itu upacara ini juga merupakan pembersihan serta penegasan nama si bayi. Serangkapan dengan upacara ini biasanya dilakukan pula upacara turun tanah. Tujuannya adalah untuk mohon waranugraha ke hadapan Ibu Pertiwi bahwa si anak akan menginjakkan kakinya dan agar beliau melindungi/mengasuhnya. 

UPACARA SATU OTON (6 BULAN)

Yang dimaksud satu oton di sini adalah 210 hari.

Upacara ini bertujuan untuk memperingati hari kelahirannya, dan biasanya diikuti dengan upacara pemotongan rambut yang pertama kali (megundul), yang bertujuan untuk membersihkan “siwadwara” *ubun-ubun). Upacara ini sering pula dilakukan setelah si bayi berumur 3 oton. Hal ini mungkin bermaksud untuk menjaga kesehatan si bayi. Tetapi sering juga upacara pengguntingan pertama dilakukan pada waktu upacara tiga bulan, hanya saja tidak digundul sampai bersih, melainkan merupakan simbolis saja.

Demikian pula menurut lontar-lontar upacara turun tanah dilakukan pada waktu Otonan yang pertama kali ini. Tetapi kalau diperhatikan, anak-anak sekarang telah mulai belajar berjalan sebelum berumur satu oton.

Dan tujuan daripada upacara turun tanah itu adalah mohon waranugraha ke hadapan Ibu Pertiwi, maka kiranya upacara tersebut sebaiknya dilakukan sebelum si bayi belajar berjalan. Di samping itu si bayi untuk pertama kali diperkenalkan ke hadapan Ida Betara-Betari yang ada di desanya, yaitu diwujudkan dengan menghaturkan “pejati/pesaksi” ke Bale Agung (pura Desa).

TUMBUH GIGI

Upacara ini disebut pula “Ngempugin” dan sedapat mungkin dilakukan pada waktu matahari mulai terbit. 

Tujuannya adalah untuk mohon ke hadapan Betara Surya, Betara Brahma, dan Dewi Sri agar gigi si bayi tumbuh dengan baik, puting bersih, tidak jamuran/cendawanan atau dimakan ulat.

MAKETUS (LEPAS GIGI)

Upacara ini disebut juga “makupak”. Upacara ini dilaksanakan apabila si anak sudah lepas giginya (maketus untuk pertama kalinya). Pada upacara ini dibuatkanlah upacara yang agak bertatebasan”. Mulai saat itu dia tidak diperkenankan lagi untuk natab jejanganan dan panyambutan, melainkan diganti dengan pabyakalaan dan sesayut/tatebasan (sesayut “Pangerti Swara” ). 

Menurut lontar Siwa Gama si anak tidak lagi diasuh oleh Sang Hyang Kumara, oleh karena itu tidak perlu lagi membuat banten Kumara.

Si anak mulai mempersiapkan diri untuk mempelajari ilmu pengetahuan.

Upakara-upakara dalam hal ini tidaklah begitu banyak, dan biasanya dilakukan pada waktu Otonan berikutnya, yaitu dilengkapi dengan pabyakalaan, dan Sesayut/tatebasan.

Mengenai jenis sesayut/tatebasan yang dimaksudkan, sebaiknya mohon petunjuk ke hadapan tukang/orang yang dianggap tahu.

MENINGKAT DEWASA (munggah Deha/Teruna)

Sebagai tanda kedewasaan bagi seorang laki-laki adalah suaranya mulai membesar (ngembakin), sedangkan tanda kedewasaan bagi seorang wanita adalah untuk pertama kalinya dia mengalami datang bulan (haid). 

Sejak itu seorang akan merasakan getaran-getaran asmara karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya.

Upacara-upacara dalam hal ini terutama ditujukan ke hadapan Sang Semara Ratih, dengan pengharapan agar Beliau benar-benar dapat menjadi pembimbing dan teman hidup yang baik, berguna serta tidak menyesatkan hidup orang yang bersangkutan. Demikianlah orang yang baru meningkat dewasa itu disimbulkan “kawin” dengan Sang Hyang Semara Ratih.

Biasanya upacara meningkat dewasa ini dititik beratkan pada orang perempuan. Hal ini mungkin disebabkan karena kaum wanita dianggap sebagai kaum yang lemah dan lebih memungkin untuk menanggung akibat perbuatan asmara yang tersesat.

Lain daripada itu kiranya moral kaum wanita dapat dianggap sebagai “barometer” tinggi rendahnya, tegak runtuhnya moral suatu bangsa (alam manusia), seperti disebutkan di dalam Bhagawad Gita.

UPACARA POTON GIGI (Mapandes)

Upacara ini dapat dijadikan satu dengan upacara meningkat dewasa, dan mapetik, dan penambahan upakaranya tidaklah begitu banyak.

Upacara ini bertujuan untuk mengurangi “Sad Ripu” dari seseorang, dan sebagai simbulnya akan dipotong 6 buah gigi atas (4 buah gigi dan 2 buah taring).

Yang dimaksud dengan “Sad Ripu” adalah 6 sifat manusia yang dianggap kurang baik, bahkan sering dianggap sebagai musuh di dalam diri sendiri. Keenam sifat tersebut ditimbulkan oleh Budi Rajas, dan Budi Tamas.

Sebenarnya kita sebagai manusia memiliki 3 budhi yaitu: Budi Rajas, Budi Tamas, Budi Tamas, dan Budi Satwam, sedangkan pada binatang hanya memiliki 2 Budi yaitu: Budi Rajas, dan Budi Tamas. Oleh karena itu segala pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh Budi Rajas dan Budi Tamas kiranya dapat dianggap sebagai sifat-sifat “kebinatangan”  yang tidak selayaknya menguasai diri kita sebagai manusia. Ini bukannya berarti bahwa Budi Rajas dan Tamas beserta pengaruh-pengaruhnya itu tidak perlu, tetapi hendaknya ada keseimbangan antara Budi Rajas, Tamas dan Budi Satwam sebagai penuntunnya.

Adapun yang dimaksud dengan “Sad Ripu” adalah  :  

1. Tamak/loba.

2. Suka menipu.

3. Suka dipuji (moha).

4. Murka/kroda (suka marah).

5. Suka menyakiti sesama makhluk.

6. Suka memfitnah.

Demikianlah upacara potong gigi itu bukanlah semata-mata mencari keindahan / kecantikan belaka, melainkan mempunyai tujuan yang mulia.

UPACARA MAWINTEN

Upacara ini bertujuan untuk mohon waranugraha akan mempelajari ilmu pengetahuan seperti kesusilaan, keagamaan, wedha-wedha dan sebagainya.

Pemujaan di sini diutamakan ke hadapan tiga dewa yaitu: Betara Guru, sebagai pembimbing (guru), Betara Gana, sebagai pelindung serta pembebas dari segala rintangan/kesukaran, dan Dewi Saraswati, sebagai Dewi / penguasa ilmu pengetahuan.

UPACARA – PERKAWINAN

Upacara perkawinan adalah merupakan persaksian baik ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa maupun kepada masyarakat bahwa kedua orang tersebut mengikatkan diri sebagai suami-istri, dan segala akibat perbuatannya menjadi tanggung jawab mereka bersama. Di samping itu upacara tersebut juga merupakan pembersihan terhadap “sukla swanita” (bibit) serta lahir batinnya.

Hal ini dimaksud agar bibit dari kedua mempelai bebas dari pengaruh-pengaruh buruk (gangguan Bhuta Kala), sehingga kalau keduanya bertemu (terjadi pembuahan) akan terbentuklah sebuah “Manik” yang sudah bersih.  

Dengan demikian diharapkan agar “Roh” yang akan menjiwai Manik itu adalah Roh yang haik/suci, dan kemudian akan lahirlah seorang anak yang berguna di masyarakat (yang menjadi idaman orang tuanya).

Lain daripada itu, dengan adanya upacara perkawinan secara Agama Hindu, berarti pula bahwa kedua mempelai telah memilih Agama Hindu serta ajaran-ajarannya sebagai pegangan hidup  di dalam membina rumah tangganya.

Selanjutnya menurut beberapa lontar seperti Kuno Dresthi, Eka Pertama dan     lain-lainnya, dikemukakan bahwa hubungan sex (di dalam suatu perkawinan) yang tidak didahului dengan upakara “pedengen-dengenan” (= pekala-kalaan) dianggap tidak baik, dan disebut “Kamakeparagan”. Kalau kedua kama itu bertemu atau terjadi pembuahan, maka lahirlah anak yang disebut “Rare-diadiu”, yang tidak mau mendengarkan nasehat orang tua atau ajaran-ajaran Agama. Hal ini mungkin ditujukan kepada perkawinan yang direstui/disetujui oleh kedua belah pihak (pihak orang tua si gadis dan pihak orang tua si pemuda). Tetapi di Bali masih sering terjadi perkawinan secara  “Ngerorod”, sehingga kemungkinan sekali segala upacara akan tertunda sampai tercapainya kata sepakat antara kedua belah pihak. Dan hubungan sex yang mungkin terjadi dalam hal ini, kiranya tidaklah dapat dianggap sebagai “Kama-keparagan”, karena perbuatannya dilakukan dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab atas segala akibatnya.

Sebagai contoh dapatlah dikemukakan perkawinan antara Dewi Sakuntala dengan Prabu Duswanta, di mana menurut ceritanya perkawinan itu tidak disertai dengan sesuatu upakara/upacara apapun. Kemudian kalau diperhatikan upacara-upacara di dalam perkawinan kiranya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu  :  

  1. Upacara medengen-dengenan (= mekala-kalaan), adalah merupakan upacara yang terpenting (pokok) di dalam perkawinan, karena dalam upacara inilah dilakukan pembersihan secara rokhaniah terhadap “bibit” kedua mempelai, dan persaksian atas perkawinannya, baik ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan masyarakat. Oleh karena itu pelaksanaannya sedapat mungkin tidak tertunda.
  2. Upacara natab, dan mapejati (ngaba jaja), adalah merupakan penyempurnaan di dalam perkawinan. Tujuannya adalah untuk membersihkan lahir batin kedua mempelai, memberi bimbingan hidup dan menentukan status salah satu pihak. Pelaksanaannya kadang-kadang tertunda beberapa hari tergantung pada keadaan.